Pelajaran dari Seekor Kupu-Kupu

Suatu hari, pada saat sebuah lubang kecil timbul di suatu kepompong seorang pria duduk dan memperhatikan bagaimana seekor bayi kupu kupu selama berjam-jam berjuang untuk memaksa mengeluarkan badannya melalui lubang tsb. Akan tetapi kemudian proses tersebut berhenti tanpa ada kemajuan lebih lanjut. Tampaknya sudah sekuat tenaga dan bayi kupu kupu tidak bisa bergerak lebih jauh lagi.Sehingga Akhirnya sang lelaki tersebut memutuskan untuk menolong kupu-kupu itu. Diambilnya sebuah gunting untuk membuka kepompong tersebut.

Kupu-kupu tersebut akhirnya keluar dengan mudah, walau dengan tubuh yang lemah, kecil dan sayap yang mengkerut. Sang lelaki terus mengamatinya dengan berharap bahwa, suatu saat, sayapnya akan terbuka, membesar dan berkembang, agar bisa menyangga tubuhnya dan menjadi kuat.

Namun semuanya tidak akan pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu tersebut menghabiskan sisa waktu hidupnya dengan merangkak beserta tubuhnya yang lemah dan sayap yang mengkerut. Kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang.

Lelaki baik dan penolong itu tidak mengerti bahwa kepompong yang menjerat maupun perjuangan yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk dapat lolos melewati lubang kecil, adalah cara ALLAH untuk mendorong cairan dari kupu-kupu itu masuk ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Terkadang perjuangan sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan ini.
Apabila ALLAH membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu hanya akan membuat kita lemah. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah bisa Sukses.

Saya memohon diberi Kekuatan...
Dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuat saya Kuat.

Saya memohon agar menjadi Bijaksana...
Dan ALLAH memberi saya Masalah untuk diselesaikan.

Saya memohon Kemakmuran ...
Dan ALLAH memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.

Saya memohon Kekayaan...
Dan ALLAH memberi saya Bakat,Waktu, Kesehatan dan Peluang .

Saya memohon Keberanian…..
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Saya memohon Keteguhan hati ...
Dan ALLAH memberi saya Bahaya untuk diatasi.

Saya memohon Rasa Cinta ...
Dan ALLAH memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon Kemurahan/Kebaikan hati ...
Dan ALLAH memberi saya kesempatan-kesempatan.

Saya memohon Kelebihan...
Dan ALLAH memberi saya jalan utk menemukannya.

“Saya tidak memperoleh yang saya inginkan...
.......Akan tetapi saya mendapatkan segala yang saya butuhkan “.......

Hiduplah dengan keberanian, hadapi semua hambatan dan tunjukkan bahwa kau mampu mengatasinya. Usahakanlah sekuat tenaga untuk “menemukan” bakatmu, luangkan waktu belajar untuk menambah pengetahuan dan keterampilanmu, jaga kesehatanmu, gunakan waktumu hanya untuk kegiatan yang berkaitan dengan misimu, banyak banyak lah berdoa agar ditunjukkan jalan yang benar dalam menemukan peluang, perluas jaringanmu dan jangan bosan bosannya berusaha. ...........

Gaya Hidup Islami dan Gaya Hidup Jahili

Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini. Yang pertama ialah kebaikan (al-khair), dan yang kedua ialah kebahagiaan (as-sa’adah). Hanya saja masing-masing orang mempunyai pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.

Dalam pandangan Islam gaya hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1) gaya hidup Islami, dan 2) gaya hidup jahili. Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu Tauhid. Inilah gaya hidup orang yang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan rapuh, yaitu syirik. Inilah gaya hidup orang kafir.

Setiap Muslim sudah menjadi keharusan baginya untuk memilih gaya hidup Islami dalam menjalani hidup dan kehidupan-nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
Artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).

Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap Muslim, dan gaya hidup jahili adalah haram baginya. Hanya saja dalam kenyataan justru membuat kita sangat prihatin dan sangat menyesal, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Beliau bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِيْ بِأَخْذِ الْقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّوْمِ. فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَـئِكَ

Artinya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, shahih).

لَتَتَّبِعَنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. قَالَ: فَمَنْ

Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka”. Kami bertanya,”Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa lagi?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri, shahih).

Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mere-ka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu hasan).

Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi seperti mereka. Lalu dalam hal apakah tasyabbuh itu?

Al-Munawi berkata: “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/ berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”.
Tentu saja lingkup pembicaraan tentang tasyabbuh itu masih cukup luas, namun dalam kesempatan yang singkat ini, tetap mewajibkan diri kita agar memprihatinkan kondisi umat kita saat ini.

Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian Muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana Muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode busana jahiliyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana Muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at. Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya, yang mayoritas beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum tersebut yang tidak mengekspose aurat. Kalau tidak memper-tontonkan aurat karena terbuka, maka ekspose itu dengan menonjolkan keketatan pakaian. Bahkan malah ada yang lengkap dengan dua bentuk itu; mempertontonkan dan menonjolkan aurat. Belum lagi kejahilan ini secara otomatis dilengkapi dengan tingkah laku yang -kata mereka- selaras dengan mode pakaian itu. Na’udzubillahi min dzalik.

Marilah kita takut pada ancaman akhirat dalam masalah ini. Tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di Neraka. Ingatlah, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَتُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

Artinya: “Dua golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataan-nya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah, shahih).

Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporak-porandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili.

Marilah kita merenungi dan mentaati sebuah firman Allah yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6).

Allahu A'lamu bishowwab...

Mendapatkan Pahala Haji Mabrur

Bagi setiap orang yang menunaikan ibadah haji dengan diiringi keikhlasan kepada Allah tentunya mengharapkan agar ibadah hajinya diterima Allah SWT atau dengan kata lain mendapatkan gelar Haji Mabrur. Dan yang pastinya setiap orang yang menunaikan ibadah haji ke Baitullah belum tentu mendapatkannya walaupun mungkin sudah berhaji lebih dari satu kali.

Kalau mereka yang sudah diberi kesempatan dan mampu untuk menunaikan ibadah haji saja belum tentu mendapatkan pahala haji yang Mabrur apalagi bagi kita yang belum mampu untuk melaksanakannya tentunya akan lebih sulit. Demikian mungkin kilasan yang ada difikiran kita.

Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah tidak akan membebankan sesuatu sesuai dengan kemampuan hambaNya. Makanya Ibadah Haji adalah satu-satunya ibadah dalam Rukun Islam yang kewajiban pelaksanaannya mempersyaratkan jika mampu (harta, jiwa, dan raga). Berbeda dengan Ibadah yang lainnya seperti Sholat, Shoum, dan Zakat.

Walaupun dalam pelaksanaannya tidak semua orang mampu untuk menunaikannya. Tapi Allah memberikan kesempatan bagi setiap Mu’min untuk memperoleh pahala yang setara dengan pahala Haji Mabrur seperti halnya Pahala Jihad dimana mereka yang memberikan bekal dan menanggung kehidupan keluarga mujahid yang berangkat ke medan juang akan dijanjikan oleh Allah pahala yang sama dengan orang yang berangkat kemedan Jihad. Demikian pula ketika kita memberikan makanan berbuka bagi orang yang sedang berpuasa, Allah menjanjikan pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.

Lalu bagaimana kita bisa mendapatkan pahala Haji Mabrur walaupun kita belum diberi kesempatan oleh Allah untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah?......

Bagi kita yang sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk menunaikan Puncak dari Rukun Islam tersebut, paling tidak tulisan ini bisa kita jadikan sebagai tips amaliyah yaumiyyah (amalan harian kita) agar kita selalu mendapatkan pahala tersebut.

Mari kita simak hadits Rasulallah SAW ini:

“Barang siapa berada pada pagi hari tanpa bermaksud mendzalimi seorangpun, maka akan diampuni dosa-dosanya. Dan barang siapa berada pada pagi hari dan berniat untuk menolong orang yang teraniaya serta memenuhi keperluan seorang Muslim, maka baginya pahala seperti pahala Haji Mabrur.”

Dari hadits di atas menunjukkan bahwa Allah Maha Adil, bagi mereka yang belum dapat menunaikan ibadah Haji, Allah memberikan kesempatan kepada mereka memperoleh pahala yang sama dengan pahala Haji Mabrur dengan cara sebagai berikut:
  1. Berniat disetiap pagi hari untuk:
    • tidak mendzalimi siapapun khususnya sesama Muslim
    • menolong orang yang teraniaya siapapun dia khususnya seorang Muslim
    • memenuhi keperluan seorang Muslim
  2. Berusaha dengan sungguh-sungguh merealisasikan apa yang diniatkan sesuai dengan kemampuan kita.
  3. Mengikhlaskan seluruh apa yang telah dilakukan karena Allah SWT.
Untuk membantu sesama Muslim, Rasulallah memberikan gambaran amal yang bisa dilakukan dalam sebuah hadits sbb:

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling utama adalah menyenangkan hati orang beriman (Mu’min) dengan cara menghilangkan kelaparan darinya, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau melunasi hutangnya. Ada dua perkara yang sangat kotor dan keji, yaitu: menyekutukan Allah dan menimbulkan kemudharatan bagi kaum Muslimin”.

Wallahu’alamu bishowwab

Sebuah Harapan

Setiap manusia di dunia ini tentunya memiliki harapan dan cita-cita.
Harapan dan cita-cita inilah yang membuat manusia bersemangat dalam menjalani kehidupan.
Orang yang tidak mempunyai harapan dan cita-cita bagaikan mayat gentayangan karena tidak tahu mau apa. Tapi jangan salah mayat gentayangan saja punya harapan, biasanya harapannya agar keberadaannya diketahui oleh manusia. Begitu lho… kaya di film-film, walaupun kebenarannya seperti di film-film saya masih ragukan.

earth-space1.jpgHarapan dan cita-cita dalam kehidupan manusia ibarat secercah cahaya yang menyinari kehidupan manusia sehingga manusia dapat melihat sekelilingnya dan melakukan apa saja yang dia inginkan sesuai dengan harapan dan cita-citanya.
Ketika kita ditempat yang gelap gulita tentunya kita berharap adanya cahaya yang akan menerangi tempat kita berada yang dengan cahaya itu kita bisa melihat disekeliling kita dan kita bisa melakukan kegiatan dan aktifitas yang bermanfaat untuk kehidupan kita. Tentunya beda dengan maling ya… yang justru berharap ditempat gelap dia bisa beraksi untuk melakukan kejahatan, atau orang-orang yang ingin bertindak tidak baik.

first_lightweb1.jpgNah kita ambil saja contoh kecil dari sebuah harapan dan cita-cita. Tentunya ketika kita masih kecil pernah ditanyakan oleh orangtua kita, nak.. cita-citamu mau jadi apa?.. atau orangtua kita berpesan, sekolah yang rajin ya… biar jadi anak pintar…, dan seterusnya.
Sebenarnya kata-kata orangtua kita mungkin akan kita ulang kembali kepada anak-anak kita. Disini anak diajarkan memiliki cita-cita yang besar seperti pepatah “gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit..”. Disisi lain orang tua memiliki harapan yang besar agar anaknya menjadi orang yang sukses dikemudian hari.
children1.jpgOrangtua yang tidak memiliki harapan sedikitpun terhadap anaknya berarti orangtua tersebut tidak normal alias terganggu kejiwaannya dan ini penyakit yang berbahaya sekali bukan?.
Dengan cita-cita dan harapan manusia bisa meraih apa saja yang diinginkan (jika Allah menghendaki tentunya…). Dan salah satu pelajaran yang bisa kita ambil mengapa kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi adalah bahwa dengan hal tersebut manusia memiliki banyak harapan dan cita-cita untuk kebahagianan dan kesuksesannya dalam kehidupan.

Jika anda adalah orang beragama maka cita-cita dan harapan itu tidak hanya terbatas dalamkehidupan dunia saja, bahkan dikehidupan yang akan datangpun manusia harus memiliki cit-cita dan harapan. Terutama bagi anda yang beragama Islam tentunya meyakini akan adanya kebahagiaan dalam kehidupan yang akan datang adalah suatu yang harus diusahakan, karena Allah telah menyediakan surga yang didamba-dambakan oleh seluruh manusia yang didalamnya terdapat berbagai macam kesenangan yang belumpernah terlihat, terdengar, bahkan terfikir dalam fikiran manusia.lilin.gif

Marilah kita jadikan sedikit cahaya yang menerangi kehidupan kita untuk melakukan aktifitas yang bermanfaat untuk kehidupan kita dimasa kini dan yang akan datang dan yang tak kalah penting adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain dan bisa membantu orang lain menerangi kehidupannya walau hanya menjadi lilin kecil.

20 Cara Membahagiakan Istri

........................"Rumahku Surgaku".........................

Itulah harapan sebuah pernikahan. Memang, tidak mudah untuk mewujudkan harapan tersebut, bisa-bisa rumahku menjadi nerakaku. Dibutuhkan kerjasama yang harmonis diantara suami dan istri ketika mengarungi bahtera pernikahan. Selain itu, dibutuhkan pemahaman mengenai cara memelihara pernikahan agar tetap harmonis dan tahan terhadap badai ujian.

Rasulullah SAW bersabda :

“ Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik (perlakuannya) terhadap istri-istrinya dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap istri-istriku.”

Rasullullah SAW juga bersabda :

“ Tidak ada yang memuliakan wanita dengan sejati kecuali laki-laki yang pemurah (dermawan) dan tak seorangpun yang menghina mereka (wanita) kecuali laki-laki yang kasar.”

Tugas-tugas seorang suami kepada istrinya :
  1. Hendaklah Anda selalu memperlihatkanlah wajah yang menyenangkan ketika masuk ke rumah, ucapkan salam Islam “assalaamu’alaikum” dengan senyuman yang manis, raih tangannya dan peluklah istri Anda dengan mesra.
  2. Ketika berbicara, untaikan kalimat yang manis serta memikat istri Anda. Usahakan istri Anda merasa benar-benar diperhatikan dan menjadikannya wanita paling khusus untuk Anda. Untaian kalimat yang disampaikan kepadanya hendaknya jelas (ulangi jika perlu) dan panggillah istri Anda dengan sebutan yang dia sukai seperti ; manisku, sayangku, cintaku dan lain sebagainya.
  3. Meskipun Anda mempunyai beban kerja yang banyak, luangkanlah waktu untuk beramah tamah dan bercengkerama dengan istri Anda. Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW dimana beliau juga beramah tamah dan menghabiskan waktu bersama para istri beliau, meskipun pada saat itu beliau juga penuh dengan pekerjaan serta beban tanggung jawab yang sangat besar.
  4. Mainkanlah suatu permainan ataupun selingan yang menggembirakan bersama istri Anda. Hal ini dinyatakan dalam suatu hadist bahwa Rasullah SAW bersabda :
    “ Semua hal yang di dalamnya tidak menyebut nama Allah SWT, adalah suatu kesia-siaan, kecuali dalam empat hal : seorang laki-laki yang sedang bermain dengan istrinya, melatih kuda, membidik di antara dua sasaran, serta mengajarkan berenang.”
  5. Membantu pekerjaan sehari-hari rumah tangga. Usahakan Anda membantu dan menolong istri Anda dengan tugas-tugas keseharian rumah tangga Anda, seperti membeli makanan, mempersiapkan makanan, membersihkan serta mengatur rumah, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini akan membawa kebahagiaan tersendiri pada diri istri Anda dan tentu saja akan semakin memperkuat cinta Anda dan hubungan Anda bersama sang Istri.
  6. Usahakan musyawarah selalu menghiasi rumah tangga Anda. Bermusyawarahlah dengan istri Anda, dalam setiap permasalahan. Pendapat yang di sampaikan Ummu Salamah kepada Rasulullah SAW pada saat perjanjian Hudaibiyyah adalah suatu kejadian yang sangat terkenal. Hal ini merupakan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk bermusyawarah dengan para istri dan para sahabat beliau.
  7. Ketika Istri Anda sedang berkunjung ke tempat saudaranya, teman-temannya, serta orang-orang saleh, maka temanilah istri Anda.
  8. Tata cara melakukan perjalanan dan meninggalkan istri di rumah. Jika Anda tidak bisa membawa serta istri Anda dalam perjalanan, maka ucapkanlah selamat tinggal dengan penuh rasa sayang, bekalilah istri Anda dengan persediaan kebutuhan sehari-hari dan uang secukupnya, mintalah istri Anda untuk mendo’akan Anda, sering-seringlah untuk menghubungi istri Anda. Jangan lupa untuk meminta pertolongan kepada orang yang Anda percayai untuk menjaga keluarga Anda selama Anda bepergian. Persingkat perjalanan Anda jika dirasa sudah tidak penting lagi dan pulanglah dengan membawa oleh-oleh. Hindari untuk pulang pada malam hari atau pada saat-saat yang tidak diharapkan.
  9. Dukungan keuangan. Tumbuhkanlah sikap dermawan pada diri Anda (tidak pelit) dalam urusan pengeluaran rumah tangga Anda, tentunya harus sesuai dengan kemampuan keuangan Anda. Dukungan keuangan yang baik (tidak boros tentunya) akan sangat berguna untuk memelihara kestabilan perkawinan Anda.
  10. Buatlah diri Anda agar selalu berbau harum dan perindah penampilan Anda . Allah SWT itu indah dan Dia menyukai keindahan. Maka selalu bersihlah Anda, rapi, dan pakailah parfum. Ibnu Abbas r.a. berkata :
    “ saya menyukai keindahan diri saya sendiri untuk istri saya, seperti halnya saya menyukai keindahan istri saya untuk saya.”
  11. Tentang hubungan seksual. Merupakan tugas dari suami untuk mencukupi kebutuhan serta hasrat seksual sang istri. Bisa jadi sekali waktu istri Anda sedang berada dalam masa yang sangat prima berkenaan dengan kesehatan fisik dan psikologisnya.
  12. Penuh perhatian. Seorang suami muslim harus sangat perhatian dan penuh perasaan terhadap istrinya. Istri Anda pasti mengalami dan melewati bermacam-macam perubahan baik secara fisik dan psikologis. Pada saat-saat seperti itu, istri Anda sangat memerlukan suatu perlakuan yang mesra dan penuh perhatian, agar istri Anda bisa menghapus kesusahan dan kesedihan yang sedang dialaminya, serta menenangkan perasaannya yang mudah tersentuh.
  13. Jagalah kerahasiaan perkawinan Anda. Diriwayatkan dalam sebuah hadist oleh Abu Sa’id Al-Khudry bahwa Rasulullah SAW bersabda :
    “ Sungguh di antara orang yang paling buruk di hadapan Allah SWT pada saat hari kebangkitan adalah laki-laki yang mendatangi istrinya untuk melakukan hubungan badan, dan dia membeberkan rahasia itu (tentang hubungan badan) kepada yang lain.”
  14. Bekerja sama dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT, sholat berjama’ah dan selalu tingkatkan aktifitas Anda dalam beribadah kepada Allah SWT, seperti bersedekah, dzikir (mengingat Allah SWT), dan sholat pada malam hari (qiyamul lail). Rasulullah SAW bersabda :
    “ Semoga rahmat Allah SWT dilimpahkan kepada laki-laki yang bangun pada malam hari dan membangunkan istrinya untuk sholat bersamanya, dan jika dia menolak maka percikkan air ke wajahnya”.
  15. Selalu menunjukkan rasa hormat kepada keluarga dan teman istri Anda.
  16. Usahakan untuk mendidik istri Anda tentang islam dan berilah istri Anda nasehat-nasehat.
  17. Cemburu yang sewajarnya.
  18. Bersabar dan berlaku lembutlah kepada istri Anda. Kendalikan amarah Anda dan buatlah sang istri untuk menghilangkan keragu-raguannya terhadap Anda, dan nasehatilah dia ketika melakukan suatu kesalahan.
  19. Jadilah pema’af dan tegurlah istri Anda dengan cara yang baik dan sampaikan pada saat yang benar-benar tepat.
  20. Jadilah seorang suami muslim yang sejati, dan terapkan semua yang pernah dibaca dan dipahami tentang Islam, dengan arif dan bijaksana.


dikutip dari: Almuhajirun